Menyantuni Yatim di Bulan Suci, Bupati Cianjur Apresiasi PWI sebagai Garda Terdepan Informasi Kredibel
CIANJUR – ungkaphukumnasional.com Di tengah hiruk-pikuk arus informasi digital yang kerap mempertaruhkan akurasi demi kecepatan, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Cianjur menunjukkan bahwa insan pers tak hanya memiliki ketajaman pena, tetapi juga kepekaan hati. Mengusung semangat Ramadan yang penuh berkah, PWI Cianjur menggelar acara buka puasa bersama yang dirangkai dengan santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa, Minggu (15/3/2026).
Acara yang berlangsung di Kantor PWI Kabupaten Cianjur, Jalan Siliwangi No.34A, Kelurahan Pamoyanan, ini berlangsung khidmat dan penuh kehangatan. Momen spesial tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Cianjur, dr. Mohammad Wahyu Ferdian, didampingi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Rachmat Hartono. Kehadiran orang nomor satu di Cianjur itu disambut antusias oleh Ketua PWI Kabupaten Cianjur, Mohammad Ikhsan, beserta jajaran pengurus dan seluruh anggota.
Suasana haru membalut ruangan saat para anak yatim dan lansia menerima santunan yang diserahkan langsung oleh Ketua PWI dan Bupati Cianjur. Kegiatan ini menjadi oasis di tengah rutinitas para wartawan yang sehari-hari bergelut dengan deadline dan fakta di lapangan.
Dalam sambutannya, Bupati Wahyu Ferdian menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif mulia yang digagas oleh keluarga besar PWI. Menurutnya, kegiatan ini adalah bukti otentik bahwa profesi wartawan tidak hanya identik dengan kerja-kerja intelektual, tetapi juga aksi nyata kepedulian sosial.
“Saya, atas nama pribadi dan Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur, mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya. Buka puasa bersama dan santunan ini adalah cerminan bahwa PWI memiliki kepedulian sosial yang tak pernah padam,” ujar Bupati di hadapan para pewarta dan undangan.
Lebih dari sekadar acara seremonial, pertemuan ini juga menjadi ajang silaturahmi perdana Bupati Wahyu Ferdian dengan insan pers di kantor PWI pasca dilantik. Ia mengaku bersyukur bisa berdialog langsung dengan mitra strategis pemerintah daerah tersebut.
Memanfaatkan momentum itu, Bupati yang dikenal dekat dengan masyarakat ini menyuarakan kegelisahannya tentang maraknya media sosial dan portal berita abal-abal yang mengabaikan kaidah jurnalistik. Di era disinformasi ini, ia menegaskan bahwa PWI memiliki peran vital sebagai benteng terakhir informasi yang kredibel.
“Di tengah gempuran media yang tidak jelas asal-usulnya, yang hanya mengejar sensasi dan viralitas tanpa kroscek, saya optimis rekan-rekan PWI tidak akan tergerus. Masyarakat pasti tetap mempercayai media yang menjunjung tinggi kode etik dan taat pada perundang-undangan,” tegasnya.
Bupati mengakui bahwa produk jurnalistik yang faktual dari para wartawan PWI kerap menjadi sumber informasi penting bagi pemerintah. “Rekan-rekan adalah mitra kami. Informasi yang disajikan menjadi penyeimbang (check and balance) yang konstruktif. Terima kasih telah menyampaikan apa yang mungkin luput dari pantauan kami,” imbuhnya.
Menutup sambutannya dengan doa, Bupati Wahyu berharap seluruh insan pers, khususnya anggota PWI Cianjur, senantiasa dilindungi dan dimudahkan dalam menjalankan tugas mulia menyampaikan kebenaran.
“Saya doakan semoga rekan-rekan selalu dalam lindungan Allah. Tugas rekan-rekan ini tidak ringan, penuh risiko. Semoga PWI beserta keluarga besar selalu diberikan kesehatan dan keberkahan,” tuturnya.
“Semoga kegiatan berbagi ini menjadi amal ibadah yang diridhoi Allah dan melahirkan generasi-generasi penerus yang sholeh dan sholehah,” pungkas Bupati.
Sementara itu, Ketua PWI Kabupaten Cianjur, Mohammad Ikhsan, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bentuk implementasi tanggung jawab sosial organisasi.
“Ramadan adalah momentum tepat untuk merekatkan silaturahmi, tidak hanya antarwartawan, tetapi juga dengan pemerintah dan masyarakat. Kehadiran wartawan bukan hanya saat ada peristiwa, tetapi juga harus hadir dalam kepedulian sosial. Inilah wujud nyata jurnalisme yang berempati,” ujar Ikhsan.
Kegiatan ini pun ditutup dengan doa bersama dan santunan, meninggalkan pesan mendalam bahwa di era digital yang serba cepat, nilai-nilai kemanusiaan tetap harus menjadi panglima.
Red






