KOMITMEN HIJAU DI KAKI PANGRANGO: DMGP PASTIKAN EKSPLORASI PANAS BUMI TAK GANGGU EKOSISTEM DAN PERTANIAN CIANJUR

CIANJURungkaphukumnasional.com RABU 11 FEBRUARI 2026 – Di tengah percepatan transisi energi nasional, PT Daya Mas Geopatra Pangrango (DMGP) menggelar forum jurnalistik di Cianjur, Rabu siang. Puluhan wartawan dari berbagai media menghadiri pemaparan komprehensif mengenai pengembangan panas bumi di kawasan Gunung Gede Pangrango—sebuah proyek strategis yang tak hanya menjanjikan pasokan listrik bersih, tetapi juga menjadi ujian penting bagi harmoni antara industrialisasi energi dan kelestarian alam.

DMGP menegaskan bahwa seluruh tahapan eksplorasi di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Cipanas ini telah melalui pendekatan saintifik, kepatuhan regulasi ketat, serta koordinasi lapangan yang intensif dengan warga dan pemerintah desa. Proyek ini merupakan penugasan resmi negara berdasarkan Keputusan Menteri ESDM No. 2778 K/30/MEM/2014.

Salah satu poin yang mendapat sorotan adalah efisiensi pemanfaatan lahan. DMGP hanya menggunakan sekitar 11 hektare untuk tahap eksplorasi awal (PSPE)—atau tidak lebih dari 0,02 persen dari total kawasan konservasi. Dengan potensi energi mencapai 125 MW, angka ini menjadi bukti bahwa pengembangan energi baru terbarukan tidak harus berbenturan dengan fungsi konservasi.

“Kami ingin menunjukkan bahwa energi bersih dapat hadir tanpa mengorbankan keasrian alam. Pemanfaatan lahan yang sangat minimal ini adalah wujud komitmen kami terhadap ekologi sekaligus efisiensi,” ujar Humas PT DMGP, Imron Rosyadi, di sela pemaparan.

Salah satu kekhawatiran publik yang selama ini mengemuka adalah dampak aktivitas panas bumi terhadap stabilitas Gunung Gede Pangrango. Menjawab hal itu, DMGP menghadirkan keterangan ahli dari Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran.

Dr. Ir. Dewi Gentana, MM, pakar geologi Unpad, menegaskan bahwa teknologi yang digunakan dalam proyek ini tidak akan memicu gempa merusak. “Energi yang terlibat dalam siklus panas bumi sangat kecil dibanding gempa tektonik. Ditambah sistem reinjeksi dan closed-loop, tekanan bawah tanah tetap stabil. Ini bukan teknologi eksploitatif, melainkan sirkulatif,” jelasnya.

Senada dengan itu, Prof. Dr. Ir. Nana Sulaksana, MSP, pakar vulkanologi Unpad, memastikan struktur internal Gunung Gede Pangrango tidak terusik. “Pengambilan uap tidak dilakukan dengan menggali badan gunung. Kami hanya memasukkan pipa baja berdiameter kecil yang diperkuat semen ke kedalaman ribuan meter. Tidak ada gua, tidak ada peledakan. Ini teknologi presisi,” tegasnya.

Untuk menjamin transparansi, DMGP juga memasang jaringan seismograf di sejumlah titik sekitar wilayah operasional yang memantau aktivitas getaran tanah secara real-time.

Kekhawatiran lain yang selama ini membayangi warga Cipanas—sentra hortikultura nasional—adalah potensi gangguan terhadap mata air dan kesuburan lahan. Wilayah ini dikenal sebagai pemasok utama sayur-mayur seperti kol, wortel, dan kentang ke berbagai kota besar.

Prof. Nana menjelaskan bahwa secara geologis, uap panas bumi yang dimanfaatkan berada di lapisan sangat dalam, terpisah dari cadangan air tanah dangkal milik warga oleh batuan kedap air yang tebal. “Tidak ada koneksi hidrolik antara reservoir panas bumi dan sumur warga. Teknologi closed-loop bahkan mengembalikan fluida yang telah digunakan ke dalam perut bumi, menjaga keseimbangan volume air bawah tanah,” imbuhnya.

Dari sisi lingkungan, operasional pembangkit panas bumi tidak menghasilkan emisi karbon atau panas buangan ke atmosfer. Artinya, iklim mikro khas dataran tinggi Cipanas tetap terjaga—sejuk, lembap, dan ramah bagi tanaman. Hal ini menjadi jaminan bahwa produktivitas pertanian lokal tidak akan terganggu.

DMGP menekankan bahwa pengembangan proyek ini tidak dilakukan secara diam-diam. Selama tiga tahun terakhir, perusahaan gencar menggelar sosialisasi bersama pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta tokoh masyarakat. Komunikasi dua arah terus dibangun agar warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi bagian dari ekosistem energi bersih.

“Kami tidak ingin proyek ini berjalan dalam ruang hampa. Setiap mobilisasi alat, setiap fluktuasi data getaran, kami komunikasikan. Keselamatan warga dan keberlanjutan lahan tani adalah prioritas yang tidak bisa ditawar,” tutup Imron.

Red