Jalan Panjang Seorang Kang Asep: Dari Rabat Beton di Kampung Menuju Pilkades Gasol
CIANJUR – ungkaphukumnasional.com // Sore itu, Jumat (13/2/2026), langit di atas Kampung Padaruum, Desa Gasol, Kecamatan Cugenang, terlihat cerah. Namun, kehangatan sore itu tidak datang dari mentari yang perlahan condong ke barat. Sumbernya justru berasal dari bawah rindangnya pohon trembesi tua di tengah kampung, di mana puluhan pasang mata berkaca-kaca menatap satu sosok yang akrab mereka sapa.
Sosok itu adalah Kang Asep Dolen. Duduk bersila di atas tikar pandan, segelas teh hangat di tangannya, ia hadir bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai anak kampung yang pulang. Namun, kepulangannya kali ini berbeda. Ada misi besar yang ia bawa, dan jejaknya sudah terhampar nyata di depan mata warga: jalan rabat beton mulus sepanjang 500 meter yang membelah perkampungan mereka.
“Lihat jalan ini, Kang. Dulu kalau hujan, kami harus hati-hati banget jalan. Sekarang mah, alhamdulillah, bersih, mulus. Anak-anak bisa main bola sampai sore,” ujar seorang warga paruh baya dengan suara bergetar, matanya basah bukan karena sedih, melainkan haru.
Kang Asep Dolen tersenyum. Jalan mulus itu bukan proyek pemerintah desa yang didanai anggaran miliaran rupiah. Jalan itu lahir dari gotong royong, dari inisiatif Kang Asep yang beberapa tahun lalu mengajak warganya untuk bahu-membahu mengubah lumpur menjadi aspal. Ia hanya seorang fasilitator, tapi semangatnya menjadi api yang membakar kebersamaan.
Suasana sore itu berubah menjadi ajang silaturahmi yang hangat. Tak ada panggung megah, tak ada sound system meraung-raung. Hanya tikar, warga yang duduk melingkar, dan sebuah obrolan yang terasa seperti reuni keluarga besar.
“Saya hanya fasilitator dulu. Yang bekerja keras adalah bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Saya yakin, kalau kita bersama, tidak ada yang tidak mungkin,” ujar Kang Asep mengenang masa-masa pembangunan jalan.
Perubahan pasca-pembangunan jalan itu pun terasa signifikan. Warung-warung kecil di pinggir jalan mulai ramai pembeli. Pengangkutan hasil bumi dari ladang jadi lebih cepat dan murah. Anak-anak bisa pergi ke sekolah tanpa khawatir becek. Warga yang dulu enggan keluar rumah saat hujan, kini bisa bersilaturahmi kapan saja.
“Saya tidak pernah membayangkan bahwa apa yang kita kerjakan bersama dulu akan membawa saya kembali ke sini dengan cara seperti ini,” ungkap Kang Asep dengan mata berkaca-kaca. “Tapi melihat manfaatnya, saya yakin bahwa bekerja untuk masyarakat bukan soal jabatan, tapi soal kebermanfaatan. Dan itu yang ingin saya lanjutkan.”
Di hadapan warga yang semakin memadati lokasi, pria sederhana itu akhirnya menyatakan niatnya. Dengan suara lantang namun tetap rendah hati, Kang Asep Dolen menyatakan kesiapannya maju sebagai bakal calon Kepala Desa Gasol untuk periode 2028 mendatang.
“Saya bukan orang yang pandai berjanji. Saya lebih suka bekerja. Periode 2028 nanti, saya ingin membawa semangat yang sama ke seluruh Desa Gasol. Bukan hanya jalan, tapi juga pendidikan anak-anak kita, kesehatan ibu dan balita, serta ekonomi warga yang harus kita bangkitkan bersama,” paparnya dengan visi yang jelas.
Tak butuh waktu lama bagi warga untuk bereaksi. Begitu Kang Asep menyelesaikan sambutannya, tepuk tangan pecah diselingi teriakan “Gasol maju! Gasol maju!” dari kerumunan. Spanduk kecil bertuliskan “Padaruum Siap Ngangkat Kang Asep” yang dipegang para pemuda karang taruna berkibar-kibar, seolah simbol bahwa dukungan datang dari generasi muda.
Engkus, seorang tokoh masyarakat setempat, dengan sedikit gemetar menyampaikan dukungannya. “Banyak calon-calon datang, dengan janjinya masing-masing. Tapi Kang Asep ini beda. Dia buktikan dulu, baru bicara. Saya dan keluarga, insyaallah dukung penuh,” ujarnya tegas, disambut anggukan warga lainnya.
Yang membuat langkah Kang Asep berbeda dari kebanyakan calon adalah jejak karya yang sudah terlihat nyata. Selain jalan mulus, ia juga aktif dalam program pemberdayaan masyarakat, mulai dari pelatihan keterampilan bagi ibu-ibu PKK hingga pendampingan pemasaran hasil kebun warga. Ia dikenal sebagai pribadi yang tak pelit ilmu dan selalu dekat dengan warganya.
“Kang Asep itu orangnya sederhana, tapi pikirannya maju. Dia sering kasih masukan ke kami soal cara bertani yang lebih baik. Nggak kayak calon-calon lain yang datang cuma pas mau pilkades doang,” timpal seorang warga lainnya.
Dengan deklarasi informal di kampung halamannya ini, langkah Kang Asep Dolen memasuki panggung Pilkades Gasol 2028 kian jelas. Meski masih dalam tahap penjajakan dan silaturahmi, geliat dukungan dari akar rumput sudah terasa kuat. Warga merasa memiliki “bukti”, bukan sekadar janji manis.
Sore pun beranjak senja saat Kang Asep berpamitan. Sebelum melangkah pergi, ia sempat berhenti sejenak di ujung jalan rabat beton. Ia menatap hamparan aspal itu, lalu tersenyum pada warga yang mengantarnya. Di situlah mungkin letak kekuatan terbesarnya: bukan pada pidato politik yang heroik, tapi pada karya nyata yang terus dikenang dan dirasakan manfaatnya oleh warganya sendiri.
“Jalan ini bukan milik saya, tapi milik kita semua. Dan kalau nanti Allah takdirkan saya memimpin, jalan menuju kemajuan Desa Gasol akan kita buat lebih panjang lagi,” pungkasnya sebelum melangkah pergi, meninggalkan senyum dan harapan baru di hati warganya.
Dengan modal kepercayaan dan rekam jejak yang berbicara, Pilkades Gasol 2028 dipastikan akan semakin menarik untuk disaksikan. Dan sore itu, di Kampung Padaruum, sebuah perjalanan baru telah dimulai. Bukan dari titik nol, melainkan dari sebuah jalan mulus yang menjadi fondasi menuju masa depan yang lebih baik.
Red






