Ironi Nasib Nadira: Bayi 6 Bulan dengan Kelainan Langka, Pemerintah Tak Beri Sentuhan, Warga Lintas Daerah Justru Jadi Penolong

Sukabumiungkaphukumnasional.com

14 Februari 2025 – Di tengah hiruk-pikuk janji pelayanan kesehatan yang merata, sebuah ironi pahit mencuat dari pelosok Kabupaten Sukabumi. Nadira Aliyatus Sofia, bayi mungil berusia 6 bulan, putri dari pasangan Diah Rodiah dan U. Suhara, warga Kampung Lamping RT 005 RW 005, Desa Bencoy, Kecamatan Cireunghas, harus berjuang melawan kelainan bawaan yang mengancam jiwanya. Diagnosis medis mencatatnya dalam kode Z038, yaitu observasi terhadap dugaan penyakit dan kondisi lain, namun fakta di lapangan menyebutkan bahwa bayi malang ini terlahir tanpa lubang rahim—sebuah kondisi yang sangat menghawatirkan dan membutuhkan penanganan segera.

Namun, yang lebih memilukan adalah ketidakberdayaan orang tua saat berhadapan dengan birokrasi. U. Suhara, sang ayah, dengan suara bergetar menceritakan bagaimana penderitaan keluarganya seolah tak terlihat oleh mereka yang seharusnya hadir membawa solusi.

“Selama ini, pihak pemerintah desa memang pernah datang ke rumah. Tapi kedatangan mereka pun bukan atas inisiatif sendiri, melainkan karena ‘dipaksa’ oleh keadaan—atas desakan Pak Aris yang peduli. Mereka datang sekadar melihat, tanpa memberikan bantuan maksimal yang berarti,” ungkap U. Suhara saat ditemui di kediamannya, Sabtu (14/2/2025).

Lebih jauh, U. Suhara menyayangkan sikap acuh tak acuh dari pemerintah di tingkat atas. “Pihak kecamatan? Kabupaten? Sampai hari ini tidak pernah sekalipun menampakkan batang hidungnya. Tidak ada upaya nyata untuk menolong atau setidaknya menjenguk kondisi Nadira. Kami merasa benar-benar sendirian,” tambahnya dengan mata berkaca-kaca.

Di tengah kelabu birokrasi yang tak kunjung memberi kepastian, sinar kemanusiaan justru datang dari luar daerah. Aris Alamsyah, seorang warga Kabupaten Purwakarta, menjadi malaikat penolong bagi keluarga Nadira. Tanpa kenal lelah, Aris mengulurkan tangan, membantu biaya dan akses pengobatan bagi bayi 6 bulan tersebut. Perjuangan Aris ini pun diakuinya penuh dengan rasa syukur.

“Saya hanya tergerak melihat kondisi bayi ini. Sangat menghawatirkan. Di usianya yang masih sangat belia, ia harus berjuang dengan keterbatasan fisik yang begitu serius. Saya bersyukur bisa sedikit meringankan beban keluarga, tapi ini tidak bisa berhenti di sini. Bayi ini butuh penanganan medis serius dari ahlinya,” ujar Aris Alamsyah penuh harap.

Kasus Nadira menjadi tamparan keras bagi sistem pelayanan publik. Di era yang serba terkoneksi ini, masih ada warga yang harus berjuang sendiri tanpa uluran tangan negara. Kelainan bawaan seperti yang dialami Nadira adalah kondisi genting yang membutuhkan tindakan medis segera, bukan hanya sekadar “observasi” tanpa tindak lanjut.

Pertanyaan besar pun menggantung: Sampai kapan pemerintah desa, kecamatan, dan kabupaten akan membiarkan warganya berjuang sendirian? Apakah nyawa seorang Nadira harus menjadi taruhan hanya karena ketidakpedulian dan lambannya birokrasi? Di saat warga lintas daerah seperti Aris Alamsyah menunjukkan arti kepedulian, sudah seharusnya pemerintah hadir bukan hanya sebagai simbol, tapi sebagai solusi.

Red